Beranda NASIONAL BANDUNG Sutradara Fathul A. Husein akan pentaskan Drama “Facing Death” karya August Strindberg

Sutradara Fathul A. Husein akan pentaskan Drama “Facing Death” karya August Strindberg

589
0
BERBAGI

VOB- SUARABANDUNG — NEO Theatre (Bandung) bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta dan LPPM & Jurusan Teater ISBI Bandung akan mementaskan lakon “TRITIK SEGARIS PUTIH”, saduran dan sutradara Fathul A. Husein dari lakon satu babak “Facing Death” karya August Strindberg.

Lakon akan dipentaskan  pada 3 – 4 Februari 2016 dimanikan aktor utama Eka Gandara WK dan Retno Dwimarwati. dengan Penata artistik Joko Kurnain ini akan dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Jalan Palmerah Selatan Jakarta.

Lakon ini berkisah tentang disharmoni psikologis yang akut antara seorang ayah (pensiunan) dengan anak-anak perempuannya yang semua nyaris perawan tua. Kejatuhan psikis sang ayah terutama akibat ditinggal mati sang istri dan anak laki-lakinya. Kebangkrutan ekonomi keluarga membuatnya memutuskan untuk mati meminum racun dan membiarkan rumah pesanggrahannya dilalap api dari kompor yang dibiarkan terus menyala, tidak lain agar bisa menghasilkan uang untuk anak-anaknya dari asuransi kebakaran. Sebuah patriotisme pengorbanan diri untuk menebus kesalahan di masa lalu, demi masa depan anak-anaknya.

neoPementasan lakon ini dimaksudkan sebagai refleksi kritis untuk menyelami disharmoni psikologis yang abu-abu dan terasa kelam tentang realitas domestik (keluarga) yang kerap tak terduga dan mengejutkan, sebagai konsekuensi logis yang harus ditanggung dari krisis dan kejatuhan nilai-nilai yang terjadi di masyarakat (nilai ekonomi, nilai moral, nilai religiusitas, dll.). Situasi amat krusial yang oleh perspektif umum hanya bisa disergap permukaaannya saja dan tak sampai kepada pemahaman-pemahaman mendalam terkait akar-akar psikis yang mendasari peristiwa-peristiwa tersebut di masyarakat. Kita hanya tahu ada yang membunuh, ada yang bunuh diri, ada yang tiba-tiba mati, ada kekerasan dan kekacauan dalam rumah tangga, disfungsi keluarga, dll., tanpa mendalami hal mendasar yang melatarinya.

Itikad pementasan lakon ini untuk mengeksaminasi kembali daya pikat teater dramatik berikut signifikansi ‘kehadiran’ aktor di atas pentas.(R/vob)