Beranda NASIONAL BANDUNG Snapcart Dapat Suntikan Dana Pre-Series A

Snapcart Dapat Suntikan Dana Pre-Series A

529
0
BERBAGI

VOB (SUARABANDUNG) – Aplikasi mobile asal Indonesia Snapcart hari ini mengumumkan perolehan pendanaan pre-series A yang mencapai nominal $1,675,000 dolar AS. Sejumlah partisipan dalam pendanaan ini adalah Wavemaker Partners, SPH Media Fund, SMDV, dan Ardent Capital.  Mengapa Snapcart Berhasil Mendapatkan Pendanaan Sebesar 7 Digit? “Saya percaya kami bisa mendapatkan kepercayaan dari para investor karena keberhasilan awal kami dalam menggandeng dua brand FMCG besar  di Indonesia, Nestle dan L’Oreal,” ungkap Reynazran Royono, CEO dan pendiri Snapcart. “Traksi yang kami dapatkan sejak masa pra rilis hingga resmi dirilis juga menakjubkan dengan 12,000 pengunduhan aplikasi tanpa ada kampanye marketing apapun. Dalam waktu yang relatif singkat kami juga berhasil bekerja sama dengan lebih dari 35 brand, termasuk brand dari Procter & Gamble dan Unilever.”  Sejak diluncurkan pada 2 September 2015, traksi Snapcart telah bertumbuh cepat hingga lebih dari 150,000 download dan lebih dari 85,000 pengguna aktif bulanan. “Kemampuan untuk melakukan targeted engagements, dan juga potensial big data, menjadikan Snapcart sebagai sebuah platform B2B yang unik di Asia Tenggara. Traksi yang didapat dari brand dan pengguna sangat menunjukkan kepada kami betapa besarnya potensi lekatnya layanan ini bagi konsumen di Indonesia dan karena itu tidak ternilai harganya bagi brand offline dan retailer yang memanfaatkan teknologi mobile,” ujar Paul Santos dari Wavemaker Partners.  Action Plan: Ekspansi Pasar, Layanan Baru & Pemimpin Riset Pasar P&G Bergabung dengan Tim Dengan dana sebesar ini, Snapcart akan menggunakannya untuk membangun produk-produk baru; termasuk fitur video engagements dan perangkat dashboard analitik. Fitur-fitur ini akan mengakomodasi brand dengan platform yang mereka butuhkan untuk melihat perilaku konsumen mereka secara real-time, serta membantu brand untuk memformulasikan rencana marketing mereka selanjutnya. Sebagai tambahan, Snapcart juga berencana untuk melakukan ekspansi ke setidaknya dua pasar lain di Asia Tenggara, dimulai dengan Filipina pada awal tahun 2016.  Mayeth Condicion, mantan direktur riset Procter & Gamble, baru saja bergabung dengan Snapcart sebagai Chief Data Officer and Co-Founder. Dengan pengalamannya yang ekstensif selama 17 tahun di bidang analitik dan wawasan konsumen di Asia, Mayeth akan memperkuat layanan untuk klien serta memimpin operasi di Filipina. Telah berpengalaman memimpin berbagai proyek global selama di P&G untuk menjadikan riset pasar di masa depan lebih dari sekedar survei tradisional, Mayeth sangat bersemangat untuk membawa kapabilitas ini ke Asia Tenggara. “Memanfaatkan basis pengguna Snapcart yang besar dan bertumbuh cepat memberikan kami kemampuan untuk mempertemukan teknologi, ilmu data dan pemahaman konsumer, sehingga menghasilkan shopper insights yang lebih baik.” ujar Mayeth.  Waktunya Bertumbuh “Tahap pertama pengembangan kami lebih difokuskan kepada pengumpulan data massal dan akuisisi pengguna, aktivasi, dan engagement. Sekarang, dengan lebih dari seribu struk yang diterima setiap harinya, kami ingin menyempurnakan sistem otomatisasi dan meng-upgrade aplikasi yang ada. Di Indonesia, ada banyak format struk yang berbeda, bahkan di dalam waralaba ritel yang sama, sehingga menjadikannya lebih sulit untuk diotomatisasi. Ini adalah tantangan yang ingin kami atasi di tahap berikutnya,” ungkap Laith Abu Rakty, CTO dari Snapcart.  “Akuisisi pengguna selalu ada dalam agenda, namun sekarang kami melakukannya dengan cara bermitra dengan perusahaan FMCG dan vertikal lainnya melalui kombinasi kegiatan offline dan pemasaran online,” tambah Rey. Snapcart berambisi untuk mencapai 1 juta pengunduh dalam waktu kurang dari setahun. Peluncuran versi iOS Snapcart dan informasi lebih lanjut mengenai ekspansi ke Filipina akan diumumkan di awal tahun 2016.  Tentang App Aplikasi Snapcart memberikan cashback kepada para pelanggan untuk setiap foto struk yang mereka upload, dan memberikan brand sebuah platform untuk berinteraksi dengan pelanggan offline mereka.  Selain memberikan brand wawasan perilaku konsumen mereka secara real time, Snapcart juga memberikan brand kesempatan untuk berinteraksi lebih lanjut dengan pelanggan offline mereka melalui pengisian survei dan selfie review. Jumlah pertanyaan survei yang telah dijawab dalam aplikasi sudah melebihi 150.000 pertanyaan, dengan rata-rata 500 pertanyaan terjawab setiap harinya. Ketika diluncurkan pada awal September, Snapcart secara organik diunduh sebanyak 12.000 kali  tanpa aktivitas marketing. Saat ini, traksinya telah secara cepat tumbuh ke lebih dari 150.000 unduhan, dan lebih dari 85.000 pengguna aktif bulanan. Snapcart saat ini tersedia di Google App Store untuk ponsel Android, sementara versi iOS akan segera diluncurkan. Baru-baru ini Snapcart memenangkan kompetisi Campaign Innovate yang diselenggarakan oleh Campaign Asia-Pacific – dan disponsori oleh Monicom Media Group, suatu acara yang bertujuan untuk memberikan sebuah sarana untuk perusahaan-perusahaan startup di Asia-Pasifik untuk memberikan presentasi kepada brand-brand terbesar di dunia, dengan juri dari perusahaan-perusahaan FMCG multinasional seperti Unilever dan Mondelez. Kemampuan Snapcart untuk menggabungkan unsur hadiah dan bentuk analisis yang baru untuk brand adalah sebuah kombinasi yang sangat baik, yang mendorong Snapcart menjadi pemenang di antara puluhan perusahaan startup di kawasan regional ini.Tentang Snapcart  Mendapat pendanaan awal dari Ardent Capital, tim di belakang perusahaan ecommerce terkemuka, seperti aCommerce dan Moxy, Snapcart dibangun menjadi aplikasi O2O cashback terkemuka dan platform pemasaran otomatisasi berbasis pembelian di Asia Tenggara. Snapcart didirikan oleh CEO Reynazran Royono, CTO Laith Abu Rakty, dan CDO  Mayeth Condicion. Ketika digabungkan, para pendiri ini memiliki pengalaman yang luas dalam industri fast-moving consumer goods (FMCG), konsultasi, riset pasar dan industri teknologi. Sebelum mendirikan Snapcart, Reynazran menghabiskan 12 tahun di Procter & Gamble dan The Boston Consulting Group sebelum memimpin Berniaga.com (sekarang bergabung dengan OLX.co.id), C2C situs iklan baris terkemuka di Asia Tenggara. Laith adalah seorang ahli teknologi dengan lebih dari tujuh tahun pengalaman meluncurkan ecommerce dan platform teknologi, termasuk Bobobobo.com, situs belanja mewah dan wisata terkemuka di Indonesia. Mayeth memiliki 17 tahun pengalaman riset pasar, termasuk pengalaman bertahun-tahun dalam memimpin inovasi global di Procter & Gamble Asia.(rilis)