Beranda EKBIS MASA DEPAN PAPUA DAN FREEPORT

MASA DEPAN PAPUA DAN FREEPORT

Kekayaan Papua

56
0
BERBAGI
Big Bos Freeport James Bob Moffett dan MenESDM Sudirman Said foto tahun 2015

OLEH Salamuddin Daeng

Dalam website Papua.co.id disebutkan bahwa Papua adalah  sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat atau west New Guinea. Papua juga sering disebut sebagai Papua Barat karena Papua bisa merujuk kepada seluruh pulau Nugini termasuk belahan mur negara tetangga, east New Guinea atau Papua Nugini. Provinsi ini dulu dikenal dengan panggilan Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973, namanya kemudian digan menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

Asal kata Irian adalah Ikut Republik Indonesia An -Netherland. Kata Papua sendiri berasal dari bahasa melayu yang berar rambut keri ng, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku asli.

Pada era reformasi nama provinsi ini digan menjadi Papua sesuai UU No 21/2001 Otonomi Khusus Papua. Pada masa era kolonial Belanda, daerah ini disebut Nugini Belanda (Dutch New Guinea). Pada tahun 2004, disertai oleh berbagai protes, Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia bagian mur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Irian Jaya Barat yang sekarang menjadi Provinsi Papua Barat. Papua bergabung dengan Indonesia tahun 1963 setelah melalui serangkaian tekanan militer kepada Belanda (1961) dan diplomasi yang melibatkan pihak Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Pada 1 Oktober 1962 pemerintah Belanda di Irian Barat menyerahkan wilayah ini kepada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui United Na ons Temporary Execu ve Authority (UNTEA) hingga 1 Mei 1963. Setelah tanggal tersebut, bendera Belanda diturunkan dan digan bendera Merah Pu h dan bendera PBB. Selanjutnya, PBB merancang suatu kesepakatan yang dikenal dengan “New York Agreement” untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Irian Barat melakukan jajak pendapat melalui Pepera pada 1969.1 Jajak pendapat tersebut menghasilkan kesepakatan seluruh rakyat Papua untuk bergabung dengan Indonesia. Memang seluruh proses tersebut dak dapat dilepaskan dari peran dan bantuan Amerika Serikat (AS).

Salah satu perusahaan terbesar asal AS yakni Freeport mendapatkan konsesi kontrak atas kekayaan tambang Papua (1967). Hingga saat ini AS masih menaruh perha an besar terhadap Papua terkait masalah demokrasi dan hak azasi manusia.

Papua memang wilayah yang kaya, sama seper wilayah Indonesia lainnya. Papua memiliki sumber daya alam terlengkap, seper kekayaan mineral, minyak, gas, hasil hutan dan perkebunan. Kekayaan alam Papua yang terbesar adalah pertambangan emas perak dan tembaga. Namun setiap jengkal tanah Papua ini telah habis dibagi bagikan dalam bentuk kontrak dan ijin eksploitasi kekayaan alama kepada perusahaan tambang, perusahaan minyak, perusahaan kehutanan dan perusahaan
perkebunan. Pulau terbesar dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia ini telah dikuasai oleh perusahaan swasta dan sebagian besar
adalah swasta asing.
Penguasaan investor atas kekayaan alam papua sebagai berikut ;
Kontrak Karya (KK) Freeport seluas 2,6 juta hektar, Hak Penguasaan Hutan (HPH) seluas 15 juta Hektar, Hutan Tanaman Indistri (HTI) seluas 1,5 juta hektar, ijin Perkebunan dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU) seluas 5,4 juta hektar. Seluruh iji ekploitasi kekayaan alam tersebut luasnya setara dengan 57 persen luas daratan Papua. Belum termasuk kontak migas. Sebagaimana diketahui bahwa perusahaan minyak terbesar yang sekarang beroperasi di Papua adalah Bri sh Petroeum (BP) yang menguasai Gas Tangguh di Teluk Bintuni Papua Barat.
Kontras kekayaan alam Papua dengan kehidupan social ekonomi masyarakat yang sangat miskin. Papua merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kaya akan sumber daya alam namun sebagian besar masyarakatnya miskisn. Memang keadaan yang sama juga dialami oleh daerah lainnya yang kaya SDA seper Kalimantan Timur, Riau, Nusa Tenggara Barat, Maluku, yang merupakan jejeran daerah termiskin yang kaya sumber daya alam. Hilangnya akses masyarakat terhadap kekayaan alam di sekitar mereka, ngginya eksternalitas nega ve dari ekploitasi sumber daya alam termasuk di dalamnya kerusakan lingkungan, serta dak adanya industrialisasi yang membuka akses lapangan pekerjaan
secara luas menyebabkan masyarakat sekitar lokasi investasi jatuh miskin. Meskipun pemerintah pusat telah memberikan alokasi Dana Otonomi Khusus2 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang sangat besar. Bahkan APBNP tahun 2016 rencana akan dialokasikan sebesar Rp 7,765 triliun (sebelumnya Rp 7,0 triliun).

Alokasi Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat itu dibagi 70% atau Rp 5,435 triliun untuk Provinsi Papua dan 30% atau Rp2,329 triliun untuk Provinsi Papua Barat. Selain itu, pemerintah juga memberikan Dana Tambahan Infrastruktur dalam rangka Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat Rp3,375 triliun.

Jumlah dana tambahan infrastruktur ini dibagi masing-masinguntuk ProvinsiPapuasebesarRp2,261triliun,dan Provinsi Papua Barat sebesar Rp 1,113 triliun.3 Sebagai perbandingan pada APBNP 2015, dana tambahan infrastruktur untuk Provinsi Papua sebesar Rp 2 triliun, dan untuk Provinsi Papua Barat sebesar Rp 500 miliar.

Namun alokasi dana yang besar tersebut belum berbanding lurus dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua dan juga Papua Barat. Rendahnya kemampuan pengelolaan anggaran, masih ngginya penyimpangan dan korupsi menjadi penyebab semakin merosotnya kesejahteraan rakyat Papua. Peningkatan anggaran Otonomi Khusus dari waktu ke waktu dak memiliki korelasi posi f terhadap peningkatan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Hadirnya Pertambangan Raksasa Freeport

Siapa Perusahaan Freeport yang berhasil mengacak acak kedaualatan Indonesia? Freeport merupakan salah satu perusahaan raksasa dalam sektor pertambangan kelas dunia yang beroperasi di
Papua. Satu diantara perusahaan tambang besar mul asional yang ada di Indonesia.

Perusahaan tambang raksasa lainnya adalah Newmont (NYSE:NEM), Vale (NYSE:VALE), BHP Billiton (NYSE:BHP), dan ERAMET (EPA:ERA). Perusahaan perusahaan tersebut diatas menyumbangkan sedikitnya 6 % terhadap GDP Indonesia. secara keseluruhan pertambangan menyumbangkan 12 terhadap GDP(resourceinves ngnews.com).

Pada mulanya, Freeport McMoRan didirikan pada 1912 untuk menambang belerang (sulphur) di Amerika Serikat untuk penjualan di Italia. Freeport mendapatkan penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat karena menyuplai belerang bagi produksi senjata selama perang dunia pertama (PD I).
Sepanjang hayatnya perusahaan Freeport berganti-ganti nama sesuai jenis penambangan mineral yang dieksploitasinya. Nama Freeport Sulphur Company pada 1971 bergan menjadi Freeport Minerals
Company. Paul W. Douglas jadi presiden pada 1975 dan pada 1981 menemukan tambang emas di Jerrit Canyon, Nevada, mendirikan Freeport Gold Company.

Perusahaan ini menambang berbagai jenis tambang seperti mangan, uranium, kaolin, belerang, nikel, potassium, fosfat, batubara, emas. Penguasaannya sampai ke Australia (emas, nikel), dan Cuba (nikel). Perusahaan ini juga merambah ke minyak dan gas bumi, pupuk nitrogen. Sayap bisnis Freeport lainnya adalah pembangunan kota, terminal kereta api dll.

FREEPORT TELAH LAMA MENGINCAR KEKAYAAN EMAS PAPUA. PADA 1959 GEOLOG FREEPORT, FORBES WILSON MENDENGAR KISAH TEMUAN DARI JEAN DOZY YANG TERLUPAKAN. DOZY BEKERJA PADA PERUSAHAAN MINYAK NV. NEDERLANDSCHE NIEUW GUINEA PETROLEUM MAATSCHAPPIJ (NNGPM)6 MILIK BELANDA. PADA TAHUN 1935 DOZY MELAKUKAN EKSPEDISI KHUSUS UNTUK MENGEKSPLORASI NUGINI BARAT, LALU MELAPORKAN ADANYA KANDUNGAN TEMBAGA DAN EMAS TERKAYA DUNIA DI SEBUAH GUNUNG DEKAT TIMIKA YANG KEMUDIAN DIBERINYA NAMA ERTSBERG (MOUNTAIN OF ORE). DOZY TAK BISA MENDAPATKAN IZIN HAK TEMUANNYA INI DARI BELANDA YANG MENDUDUKI PAPUA, SEHINGGA DISIMPANNYA TEMUAN INI DI AMERIKA SERIKAT.

Pada 1960 ekspedisi Freeport ke Erstberg dipimpin langsung oleh Forbes Wilson dan Del Flint, mengambil beberapa sampel untuk memas kan kandunganya.

Freeport Indonesia (PT FI) didirikan pada tahun 1966, memperoleh kontrak karya pertama tahun 1967 berkat kedekatan pe nggi Freeport dengan pemerintah AS di masa itu. AS sendiri memiliki andil besar
memfasilitasi perundingan belanda dengan Indonesia di PBB, dan menekan Belanda untuk meninggalkan Papua. Hasilnya cadangan emas terbesar di dunia yang ada di Papua jatuh dalam genggaman Freeport. Kehadiran Freeport d tanah Papua melalui perjanjian Kontrak
Karya (KK) antara perusahaan Freeport McMoran dengan pemerintah Indonesia. Kontrak karya pertama ditandatangani tahun 1967.

Kontrak karya tersebut bahkan dibuat sebelum pemerintah mensyahkan UU sektoral yang mengatur pertambangan yang baru disyahkan Pada tanggal 2 Desember Tahun 1967. Dalam website resmi FCX disebutkan bahwa PT Freeport Indonesia (PT-FI) mulai beroperasi tahun 1972 dan di tahun 1988 menemukan tambang Grasberg.

Selanjutnya kontrak karya diperpanjang kembali tanggal 30 Desember tahun 1991. Dalam kontrak karya yang ditandatangani antara pemerintah Indonesia dengan Freeport McMoran 1991 tersebut, disepaka wilayah kontrak karya yang terdiri dari Kontrak Karya Blok A seluas 100 km2 dan kontrak karya blok B kira kira seluas 2.010.182 hektar.

Dengan demikian maka Freeport diberi kebebasan melakukan penggalian mineral di seluruh wilayah tersebut.  Kontrak Karya diberikan selama 30 tahun dengan 2 kali perpanjangan atau 50 tahun. Dengan demikian kontrak ini akan berakhir pada 2021 dan dapat diperpanjang selama 2 kali hingga 2041. Jika diakumulasi maka keseluruhan kontrak usianya 74 tahun. Sebuah usia yang terpanjang dalam ukuran sebuah perusahaan tambang. Kekayaan alam emas dan tembaga yang dimiliki Papua menjadikan
Freeport sebagai perusahaan tambang terbesar yang ada di muka bumi saat ini.

Status tersebut diperoleh setelah Grasberg ditemukan dan mulai beroperasi. Grasberg adalah sebuah lubang galian tambang baru setelah lubang sebelumnya yakni eastberg atau gunung bijih mur telah habis ditambang oleh perusahaan raksasa tersebut.

Berikut uraian adanya ke 10 tambang terbesar di dunia:

Tambang Grasberg merupakan jenis tambang terbuka. Freeport mengatakan bahwa pembukaan lubang tambang dimulai pada tahun 1990 dan diharapkan operasi openpit ini masih akan terus berlangsung sampai dengan akhir tahun 2017 mendatang. Di dalam website FCX disebutkan bahwa operasi Grasberg oleh PT Freeport Indonesia (PT-FI) dibawah Contract of Work (COW) dengan Pemerintah Indonesia, untuk mengembangkan explorasi dan produksi seluas 24,700-hektar di Block A yang sekarang beroperasi. Selain itu dibawah COW, PT-FI juga ak vitas ekplorasi Block B yang mencakup 502,000 hektar.

Jumlah ini memang berbeda dengan yang tertera dalam kontrak karya karena adanya peluang megalami perluasan dan penciutan sebagaimana perjanjian kontrak karya itu sendiri.

Tambang Grasberg ini begitu dilelu-elukan Freeport dalam rangka menarik minat investor untuk membeli saham perusahaan tersebut agar dapat mendongkrak mendorong kenaikan saham perusahaan di bursa Newyork. Sebagaimana diketahui bahwa saham Freeport telah jatuh semakin dalam sepanjang tahun 2015 akibat menurunnya harga komoditas termasuk di dalamnya harga konsentrat tembaga.

Berikut cadangan tambang di Papua yang sudah, sedang dan dalam rencana eksploitasi:

Saat mencapai produksi tebaik, tambang Grasberg akan merupakan yang terbesar di dunia (world’s largest) dalam cadangan tembaga dan cadangan emas. Sebagaimana dikatakan FCX dalam situs resminya bahwa saat ini perusahaan tengah melakukan explorasi dan pengembangan pertambangan emas perak dan tembaga di Grasberg Indonesia yang dklaim merupakan salah satu dari cadangan emas dan tembaga terbesar di dunia saat ini.

Tambang Grasberg sendiri mengoperasikan ga tambang yakni ; open pit, Deep Ore Zone underground mine dan the Big Gossan underground mine. Selain itu PT-FI juga menjalankan beberapa projects yang sedang berjalan di Grasberg dalam skala besar dalam jangka panjang yakni high-grade underground ore bodies, termasuk project infrastruktur bersama Grasberg Block Cave underground mine dan Deep Mill Level Zone ore body. Secara keseluruhan, underground ore bodies diperkirakan akan rampung dalam beberapa tahun ke depan dan akan memproses 240,000 metric tons biji se ap hari.

Momentum Renegoisasi

Freeport memang salah satu perusahaan tambang Amerika Serikat terbesar yang beroperasi di Indonesia saat ini. Perusahaan tambang lainnya yang juga cukup kaya adalah PT. Newmont Nusa Tenggara di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kedua perusahaan ini menguasai lebih dari 95 % ekspor tembaga, emas dan perak dari Indonesia.

Dalam laporan keuangan perusahaan Freeport dinyatakan bahwa total asset Freeport-McMoRan Inc. pada tahun 2014 mencapai US $ 58.795 billion menurun dibandingkan 2013 senilai US$ 63.473 billion. Sementara utang perusahaan pada tahun 2014 mencapai US $ 18.970 billion, menurun dibandingkan tahun 2013 senilai US $ 20.706 billion.

Perusahaan nasional yang memiliki asset yang mendeka nilai asset Freeport adalah PT. Pertamina Persero dengan total asset sekitar US$ 50 miliar dan PT PLN sekitar 1 billion dolar. Freeport dak hanya bergerak dalam sector pertambangan mineral, namun juga bergerak dalam sector migas.

Tahun 2014 Freeport McMoran mendapatkan revenue dari tambang tambangnya termasuk minyak di seluruh dunia senilai US $ 21.438 miliar, salah satunya diperoleh dari Indonesia mining senilai US$ 3.071 miliar atau mencapai 14.33 % dari total nilai penjualan perusahaan ini.

TOTAL PENDAPATAN OPERASI FREEPORT 2014 SENILAI US $ 97 JUTA. JATUHNYA PENDAPATAN OPERASI DIKARENAKAN US OIL AND GAS OPERA ON PERUSAHAAN INI YANG MENCATAT KERUGIAN OPERASI SENILAI US $ – 4.479 MILIAR. MESKIPUN PERTAMBANGAN GRASBERG MECATATKAN PENDAPATAN OPERASI SENILAI US $ 719 JUTA, NAMUN SECARA KESELURUHAN PERUSAHAAN MENCATAT KERUGIAN BERSIH SENILAI US$ – 1.3 MILIAR.

Kondisi keuangan perusahaan dalam beberapa waktu terakhir tengah berada pada situasi yang paling sulit. Walaupun belum ada statemen yang resmi yang menyatakan keuangan perushaan parah dan pihak manajemen tetap menyampaikan target yang ambisius terkait investasi di Indonesia.

Dinamika internasional dalam beberapa waktu terakhir yang ditandai dengan jatuhnya harga minyak dan harga berbagai komoditas primer telah memukul keuangan berbagai Negara dan perusahaan termasuk Indonesia dan juga termasuk Freeport. Kondisi ini menghadirkan kesempatan untuk membicarakan ulang semua kesepakatan di masa lalu yang merugikan kepen ngan Indonesia dan masyarakat Papua.

Laporan Keuangan Freeport

Mengutip statemen Pimpinan perusahaan Freeport Indonesia Maroef Sjamsuddin yang dimuat Investor Daily, mengatakan bahwa dalam Tembagapura, Papua perusahaan Freeport Mc Moran telah menginvestasikan $11 billion sejak operasi komersial perusahaan dimulai.10 Sumber yang sama menyatakan bahwa perusahaan juga berencana menginvestasikan $17 billion untuk membangun smelter dan membangun underground gold and copper mines di Grasberg Mine Complex, atau sekitar 60 kilometer dari Mimika, yang merupakan Ibukota kabupaten Mimika Papua.

Meskipun laporan sebelumnya menyatakan bahwa Freeport akan membangun smelter di Jawa Tengah dengan biaya lebih dari $2 miliar, yang kemudian mendapat penolakan dari public yang menghendaki agar smelter dibangun di Papua.

Namun rencana investasi besar besaran Freeport tampaknya akan sulit terealisasi. Paling dak dalam beberapa tahun ke depan. Mengingat masih rendahnya harga komoditas global hasil pertambangan yang memaksa perusahaan melakukan pengurangan pengeluaran. Belum lagi bahwa perusahaan secara internasional mengalami kerugian yang sangat besar dalam tahun ini, dikarenakan bisnis minyak mereka yang gagal.

Freeport lebih memerlukan kepas an dari pemerintah Indonesia atas perpanjangan kontrak mereka. Ini untuk memperbaiki kredibilitas pasar keuangan mereka yang tengah merosot. Harga saham Freeport telah jatuh pada ngkat yang paling rendah sementara kewajiban yang di mbukan oleh utang perusahaan ke pasar keuangan sangat nggi. Pantas kalau disebut bahwa tahun ini dan ke depan adalah tahun-tahun kepanikan.

Perkembangan Situasi Internasional

Pengusaan atas SDA dak terlepas dari situasi geopoli k global khususnya persaingan Amerika Serikat dan China diseluruh belahan dunia terutama di Afrika, Amerika La n dan Asia. Hal ini dapat dilihat dari Pengambil alihan beberapa perusahaan Amerika khususnya Perusahaan Freeport sebagai perusahaan pertambangan terbesar oleh Perusahaan China.

Beberaoa pertambangan Freeport yang diambil alih oleh China di berbagai belahan dunia antara lain:
1. Juli2013mengambilalih80persendariNorthParkesMines Australia milik dari Rio Tinto.
2. Mei2015ZijinMiningGroupmengambilalihKamoaHolding (Barbados) senilai 412 juta USD (49,5 persen).
3. Mei2016ChinaMolydenumatau(SMOC)mengambilalihFreeport McMoran di Republik Okomo senilai 2,8 bilion USD.
4. Tahun2016ChinaMolydenummengambilalihkepemilikan mayoritas Tenke Cooper Project di Kongo senilai 2,65 milyar USD.
5. Mei2016ChinaMolydenumjugamengakuisisRioTintosenilai5,3 bilion USD di Oyutoigoi Cooper Mongolia.
6. Tahun2016diIndonesiaChinamengambilalihsecara dak
langsung saham PT Newmont Nusa Tenggara melalui sindikasi pinjaman pada Bank BUMN yang sumber keuangannya dari China Development Bank (CDB).
7. Tahun2016PhonixBaseFreeportmenjual70persen kepemilikannya di TF Holding, Bermuda Holding Company China sangat agresif untuk mengusai perusahan-perusahaan tambang di berbagai negara sejak 2009. China memiliki keinginan yang kuat untuk menguasai perusahaan tambang diberbagai kawasan dan telah menyiapkan dana yang cukup besar. Sumber kaungan China merupakan limpahan dari krisis keuangan yang melanda AS dan Uni Eropa 2008 lalu.***

(makalah ini disampaikan dalam Diskusi Akhir Tahun 2017 Global Future Institute “Peran Media Menyorot Papua dari Perspektif Polkam, Sosial Ekonomi dan Media Massa” Kamis, 28 Desember 2017 di Jakarta)

——————————–
daftar pustaka:
Otonomi Khusus diatur dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008.
Dana otonomi Khusus bersumber dari a) Bagi Hasil Pajak; b) Bagi Hasil Sumber Daya Alam
c) Perimbangan SDA minyak bumi 70%; d) Perimbangan SDA gas 70%; e) Dana otsus 2% plafon
DAU nasional terutama ditujukan untuk pendidikan dan kesehatan; dan f) Dana tambahan otonomi
khusus untuk infrastruktur.
http://setkab.go.id/naik-rp-1-triliun-dana-otonomi-khusus-dan-keistimewaan-daerah-capai-rp-189-tri liun/
http://resourceinvestingnews.com/34088-export-ban-and-foreign-investment-cap-signal-growing-res ource-nationalism-indonesia.htm
Studi tentang: Peluang Bisnis Pertambangan Mineral di Indonesia, 2010,” Op.Cit. 7
Value At Our Core, 2014 Annual Report, Freeport-McMoRan, http://www.fcx.com/ 
jakartaglobe.beritasatu.com/business/freeport-invests-4-billion-despite-contract-certainty/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here