Beranda NASIONAL BANDUNG Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama di Gedung Merdeka

Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama di Gedung Merdeka

273
0
BERBAGI

SUARABANDUNG/V0B – Kongres Bahasa Daerah Nusantara pertama digelar, di Gedung Merdeka Kota Bandung, 2-4 Agustus 2016. Pembukaan berlangsung Selasa (02/08/2016). Acara dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari para guru, peneliti bahasa, mahasiswa, wartawan, seniman dan kelompok masyarakat peduli bahasa daerah se- Indonesia.

Gagasan kongres ini sebenarnya sudah disampaikan idenya oleh Ajip Rosidi sejak 1988. “Saya sudah sampaikan ide ini lama, namun banyak yang tidak respon dan saat ini bahasa daerah terancam punah, penyelamatan bahasa daerah menjadi tujuan utama diadakannya kongres dan Jawa Barat yang pertma mengelar ini. Bersama Pemprov Jabar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Yayasan Kebudayaan Rancage dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud,”jelas Ajip dalam press conference usai pembukaan Kongres.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dalam embukaannya , penyelamatan bahasa daerah sangat penting dan mendesak. Indonesia sebagai negara terkaya bahasa kedua di dunia yang memiliki hampir 800 bahasa, 169 dari bahasa tersebut kini terancam punah akibat arus deras globalisasi dan hanya memiliki penutur antara 500 sampai 1000 orang.

IMG_9943“Bahasa berpenutur dibawah 500 orang diantaranya satu di Sumatera, 12 di Sulawesi, delapan di Kalimantan dan 28 di Maluku, jika tidak segera di dokumentasi dan diselamatkan jumlah yang terancam punah akan terus meningkat karena sudah tidak ada lagi generasi muda yang menggunakannya,” kata Deddy.

Melalui Kongres yang mengangkat tema “Peranan Bahasa Daerah dalam Mengokohkan Jatidiri Bangsa” ini Deddy berharap, dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam upaya penyelamatan bahasa daerah. “Spirit dari Kongres kesatu Bahasa Daerah Nusantara ini bisa menjadi modal bagaimana kita bisa melestarikan bahasa daerah yang masih tersisa minimal ada upaya pendokumentasian, Pemerintah Daerah berkewajiban sesuai dengan Undang-undang bagaimana melestarikan bahasa daerah dan penuturnya,” ungkapnya.

Kongres Bahasa Daerah Nusantara ini juga menjadi langkah strategis bagi Pemprov Jabar dalam melaksanakan Perda Nomor 14 Tahun 2014 tentang pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara daerah. “Semestinya setiap daerah melakukan ini, kita sudah melakukannya sesuai amanat Undang-undang,” katanya.

Masuk dalam dalam acara kongres  Yayasan Kebudayan Rancage menganugerahkan hadiah Sastra Rancage kepada Sastrawan Sunda, Jawa, Bali dan Batak. Penghargan Hardjapamekas juga diberikan kepada Guru Bahasa Sunda tingkat SD, SMP dan SMU dan juga meluncurkan Kamus Bahasa Sunda terbaru tahun 2016 buku karya Yayasan Kebudayan Rancage sebagai artefak kebudayaan tertua yaitu bahasa.

Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama, di Gedung Merdeka Kota Bandung, Selasa (02/08/2016)/ahm
Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama, di Gedung Merdeka Kota Bandung, Selasa (02/08/2016)/ahm

Dalam rangkaian itu juga sejumlah penerima Hadiah Sastra Rancage 2016 dari Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi diberikan hadiah masing-masing Rp 5 juta, mereka adalah:

Untuk sastra sunda diberikan pada buku kumpulan cerita pendek “Nadran” karya Ahmad Bakri terbitan Kiblat Buku Utama Bandung. Hadiah Rancage 2016 untuk jasa dalam sastra Sunda diberikan pada Adang S, pensiuan tentara yang aktif mengarang, serta mendirikan berbagai komunitas diantaranya komunitas Harupat, serta Caraka Sundanologi.

Hadiah Rancage 2016 untuk sastra Jawa diberikan pada buku”Alun Samodra Rasa” karya Ardini Pangastuti terbitan Surya Samudra. Ajip mengatakan, terdapat 18 buku sastra Jawa yang terbit selama 2015. Dari jumlah itu 4 judul masuk dalam nominasi hadiah Rancage yakni roman “Ing Satengahing Alas Brongkos” karya Tiwiek SA, kumpulan guritan “Lintang Gumiwang” karya JFX Hoery, “Warung Poci” karya Maufur, serta roman “Alun Samudra Rosa” yang akhirnya memenangkan hadiah Rancage.

Untuk bidang jasa dalam sastra Jawa diserahkan pada Sri Setyowati alias Trinil, dosen Universitas Negeri Surabaya. Pegiat Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) ini mepergunakan bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran. “Karena ia ingin menunjukkan budaya Jawa yang tidak melulu berpusat di keraton,” kata dia.

Untuk buku sastra bahasa Bali diberikan pada buku “Swecan Widhi” karya I Komang Alit Juliartha. Buku yang berisi 15 cerita pendek yang dibuat pengarangnya antara tahun 2013-2015 itu menyisihkan 17 judul karya sastra Bahasa Bali yang terbit sepanjang tahun 2015. “Lebih banyak 5 judul dibandingkan yang terbit tahun sebelumnya,” kata Ajip. Belasan buku itu terdiri dari 6 kumpulan puisi, 6 roman, dan 5 kumpulan cerita pendek.

Untuk jasa dalam sastra Bahasa Bali diberikan pada I Gede Gita Purnama Arsa Putra. “Hampir 10 tahun terakhir Gede Gita aktif dalam pembinaan bahasa dan sastra Bali serta memperjuangkan nasib bahasa Bali dalam proses marjinalisasi yang nampak dalam penerbitan buku sastra Bali moderen dan aktivitasnya dalam perjuangan pembinaan bahasa Bali terutama pada generasi muda,” katanya.

Untuk sastra Batak diberikan pada buku “Ulos Sorpi” atau Kain Ulos Terlipat karya Rose Lumbantoruan, terbitan Selasar Pena Talenta, Jakarta. Ajip mengatakan, ada tiga karya buku terbit sepanjang 2015 dalam bahasa Batak. Satu buku tidak dinilai karena berisi kumpulan karya bersama yakni “Embas Sian Dakdanak” (Tari Gembira Anak-Anak), sehingga hanya dua buku yang dinilai yakni “Manigar Sihol” (Mengajuk Rindu) karya S Mida Silaban, serta Ulos Sorpi yang kemudian terpilih memenangkan hadiah Rancage 2016.

Ketua Tim Penilai hadiah Rancage 2016 sastra berbahasa Batak, Parkitri T Simbolon mengatakan, belum bisa mengusulkan penerima hadiah Rancage 2016 untuk jasanya dalam pengembangan Bahas Batak. “Calon banyak, tapi untuk itu perlu tenaga untuk menelitinya dengan baik. Semoga tahun depan hal itu bisa dilaksanakan,” kata dia dalam penjelasannya pada penilaian karya itu.

Yayasan Rancage juga memberikan hadiah Samsudi 2016 pada karya buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda. Tiga buku mendapat nominasi yakni “Ngala Jangkrik” karya Holisoh ME, “Pengkolan Jalan Cikajang” karya Usep Romli HM, dan “Bentang Hariring” karya Dian Hedrayana. Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp 5 juta akhirnya diserahkan pada buku “Bentang Hariring” karya Dian Hedrayana, terbitan KSB Rawayan Bandung.

Ketua Yayasan Rancage Rachmat Taufiq Hidayat mengatakan, tahun ini hadiah Rancage bahasa ibu Banjar dan Lampung tidak diberikan karena tidak ada buku yang terbit dalam bahasa ibu itu tahun lalu. “Gayo sudah mulai mengirim naskahnya pada kami. Tahun depan mungkin kita pertimbangkan,” kata dia, Senin, 2 Agustus 2016.

Rachmat mengatakan hadiah Rancage tahun ini juga masih diberikan pada karya sastra bahasa Batak yang terhitung baru diberikan dua tahun terakhir menyusul bahasa ibu dari Sunda, Jawa, dan Bali. “Sastra dalam bentuk moderen bahasa Batak ini terinspirasi Saut Poltak Simbolon, penulis novel tahun 78 yang sangat laris kala itu, kemudian mengadvokasi sastra batak dalam bentuk tertulis,” kata dia.

Sebagai catatan bahwa Tahun ini tidak ada pemberian bidang jasa untuk sastra Batak. –sumber Seni.co.id/AMd