Beranda NASIONAL BANDUNG JANGAN JADIKAN BANGSA INI BAGAI GADIS YANG JATUH CINTA PADA PEMERKOSANYA

JANGAN JADIKAN BANGSA INI BAGAI GADIS YANG JATUH CINTA PADA PEMERKOSANYA

125
0
BERBAGI

JANGAN JADIKAN BANGSA INI BAGAI GADIS YANG JATUH CINTA PADA PEMERKOSANYA​

Oleh  Ferdinand Hutahaean
​RUMAH AMANAH RAKYAT​

Mendengar kabar kedatangan Yang Mulia Raja Saudi, King Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia tentu membawa perdebatan sendiri yang tersisa ditengah masyarakat publik Indonesia. Wajar dan lumrah perdebatan itu terlebih bila kita hubungkan dengan situasi politik dinegara kita saat ini. ​Isu Arab menyeruak ditengah politik Indonesia bahkan terkesan digunakan sebagai olok-olok oleh kelompok tertentu. Bahkan seorang Megawati Soekarno Putri turut mengeluarkan pernyataan yang tidak seharusnya perlu dikeluarkan karena terkesan menjadi rasis dan menjadi pemicu olok-olok oleh para pendukungnya terutama dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta dan isu penodaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.​

Adalah Habib Rizik Shihab seorang ulama, warga negara Indonesia berdarah turunan Arab yang dengan setia dan tidak bergeser dari keyakinan membela imannya, membela agamanya yang dinodai oleh Ahok sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Unum pada persidangan yang sudah berjalan hingga 10 kali. ​Banyak pihak terutama dari kelompok pendukung Ahok yang menjadikan isu Arab menjadi olok-olok dan cenderung menempatkan Arab sebagai sesuatu yang identik dengan radikalisme.​

Yang membuat saya heran ketika kedatangan King Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia membawa rombongan besar dan rencana investasi besar puluhan milliar Dolar, tiba-tiba membuat semua berubah. ​Puja-puji kepada Arab dan bahkan para pendukung Jokowi Ahok yang selama ini dalam kasus penodaan Agama Ahok mengolok-olok Arab tiba-tiba kehilangan suara. Bukan diam tapi dengan lugasnya merubah olok-olok kepada Arab menjadi pujian kehebatan Jokowi yang seolah karena Jokowi lah maka Raja Salman datang ke Indonesia. Sungguh perilaku menguatirkan yang saya rasakan atas kejadian ini.

Terlepas dari perilaku janggal tersebut, saya justru kuatir dan risau melihat melihat perkembangan yang ada. Kita menjadi seperti gadis yang jatuh cinta kepada pemerkosanya.​

Benar kita memang butuh investasi asing, benar kita butuh pertumbuhan ekonomi dan benar kita tidak bisa hidup sendirian. Namun bukan karena tidak bisa hidup sendirian membuat kita lupa tentang kedaulatan bangsa. ​Yang namanya orang asing datang membawa uangnya kenegara ini adalah akan berujung pada hutang, atau setidak-tidaknya mereka para asing itu yang punya aset dinegara kita.​ Semua seperti itu, tanpa memandang negara manapun yang bawa uang dalam kedok investasi, apakah itu Amerika, Eropa, Cina atau Arab, semua akan berujung pada beban negara, beban rakyat.

​Saya tentu turut senang adanya investasi yang masuk, meski sesunguhnya secara pribadi rasa risau dan resah saya jauh melebihi rasa senang melihat gelontoran utang dalam kedok investasi tersebut.​ Salah satu contoh proyek yang akan dibiayai oleh Saudi adalah proyek RDMP Cilacap yang akan dibentuk Perusahaan Patungan atau Joint Venture antara Pertamina dengan Saudi Aramco. Dalam joint venture tersebut, tampaknya Pertamina akan menjadikan aset kilang Cilacap sebagai penyertaan modal karena mungkin tidak memiliki dana liquid untuk penyertaan modal. Tahukan kita artinya? Maka aset Kilang Cilacap yang nilainya puluhan miliar Dolar tersebut, serta merta akan turut dimiliki Saudi Aramco. ​Bukankah itu akan mengurangi kedaulatan kita? Mari kita merenung sejenak sebelum semakin jauh bangsa kita ini kita bawa terperosok ke jurang hutang.​

Saya tidak ingin mengurai semua hendak kemana uang yang berasal dari Arab itu akan diinvestasikan. Berapa bunganya dan bagaimana syarat kondisinya. Bukan itu yang menjadi fokus bagi keresahan saya, tapi mengapa sekarang begitu bangganya kita berhutang?

Dimana konsep Trisakti yang selalu didengungkan itu dulu saat pilpres? Dimana slogan kedaulatan itu kini terdampar? Dimana kata kemandirin itu kini tercampakkan?​ Mengapa kita lupa tentang semua itu dan bangga menjadi penghutang?

Saya sungguh resah terhadap masa depan bangsa ini, risau akan masa depan anak cucu negeri ini ketika kakek neneknya sekarang bagai gadis yang jatuh cinta pada pemerkosanya dan tidak malu minta diperkosa terus.​

Maafkan saya dengan kata-kata saya yang mungkin vulgar dan kurang beretika, tapi semua itu hanya wujud kegundahan saya sebagai anak bangsa yang amat risau menatap masa depan negeri sekarang. ​Kita bermohon kepada Yang Mulia Joko Widodo, agar menghentikan hasrat berhutang yang sangat menggelora itu, karena kelak bapak hanya akan mewariskan beban, mewariskan patung dan beton yang tak mampu memberi padi dan air kepada rakyat bangsa ini.

Mari lebih bijak mengelola negara ini dengan konsep Trisakti yang pernah presiden ucapkan dulu saat pilpres.

Jakarta, 25 Pebruari 2017