Beranda NASIONAL BANDUNG Iwan Koeswanna: Melukis Juga Ibadah

Iwan Koeswanna: Melukis Juga Ibadah

658
0
BERBAGI

VoB Lukisan adalah goresan tinta berlatar inspirasi alam dengan segenap keindahannya. Di sisi lain, seorang pelukis kerap terinpirasipula oleh fenomena sosial yang terjadi di masyarakat seperti situasi politik.

Namun rupanya melukis tak sekedar terinspirasi danmembuat karya lukis persis dengan objek yang terlihat oleh mata, namun seorangpelukis dituntut untuk berani menciptakan model baru yang bernuansa khas. Sehinggatak terkesan menjiplak objek alam semata.

Hal itu seperti yang dituturkan oleh Iwan Koeswanna, pelukis lulusan Jan Van Eyck Akademie Maastricht- Belanda.

Pelukis kelahiran Tasikmalaya, 14 Oktober 1960 mengandaikan sebuah karya lukisan nyaris atau bahkan sama dengan objek yang dilukisnya itulah gaya lukisan zaman renaisance yang sifatnya hanya meniru tak bernuansa.

“Tugas pelukis sekarang itu harus menciptakan sesuatu yang baru tapi di dunia ini sekarang nggak ada yang baru. Hanya pengulangan saja. Itu tergantung individunya juga,” katanya dalam wawancara Ekslusif dengan VoiceofBandung.com di kediamannya di kota Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.

“Kepuasan jadi pelukis itu bisa berusaha dekat dengan Tuhan. Karena dekat denganTuhan itu susah ternyata ya,’katanya sambil tiada henti menggoreskan tinta diatas karton.

Pelukis Iwan Koeswanna sempat bergejolak batinnya bahkan sempat berkesimpulan berhenti menjadipelukis. Kenapa? Kondisi itu bermula saat diri dan karyanya nyaris tak dihargai sama sekali saat ia menggelar pameran tunggal di salah satu kampus ternama di kota Tasikmalaya pada tahun 1987.

Kata Iwan, Afandi justru berpesan agar dirinya tak berhenti melukis sampai benar-benar menemukan hakikat yang sebenarnya jadi seorang pelukis. Kepada kami Iwan memperlihatkan secarik kertas berisi pesan Afandi pada Iwan.

“Matahari kehidupan, tangan bekerja, kaki untuk maju,”demikian isi pesan Afandi tersebut.

Melukis Juga Ibadah

Ayah satu anak ini pun menilai bahwa pekerjaan melukis itu bernilai ibadah dan dapat menjadi sarana mendekatkan diri pada Tuhan.

“Melukis sama dengan berdoa, sama dengan dzikir yang menenangkan hati,”ucap suami dari Ida Rinda ini.

Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa profesi seorang pelukis bukannya tanpa hambatan. Malahan, kata dia, pelukis teramat besar godaan dan tantangan hidupnya.

Di tengah godaan itulah seorang pelukis dapat merasakan betapa dirinya sangat jauh dari Tuhan.

“Sejatinya kan kita bisa berfikir bahwa kematian itu dekat. Banyak orang sembahyang namun apakah dengan sembahyang sudah mengenalTuhan?” tanya pria yang sempat jadi pengrajin dan penjual batik itu.

Afandi Pulihkan Gejolak Batin

“Sebelum ketemu Afandi pernah ada gejolak (batin). Waktuitu ada pameran tunggal di sekolah tinggi administrasi. Pameran tidak dilihat sama sekali, saya ditanya pun tidak. Betapa menyakitkan. Sampai ada niat mau berhentijadi pelukis,”kenangnya.

“Saya tertekan disembuhkan oleh kehadiran Afandi saat itu. Kalau tidak ketemu, tidak melukis lagi, habislah riwayat saya (sebagaipelukis),”ujarnya bersyukur.

Namun Iwan merasa pesan Afandi ada yang kurang. Menurutnya mesti ditambah satu poin lagi sebagai pelengkap yakni

“Tanah untuk kembali,”ungkapnya sambil memperlihatkan beberapa lukisan karya Afandi di halaman rumahnya.(VoB/ANGGA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here