Beranda NASIONAL BANDUNG Inggit Garnasih, Perempuan yang Mengantar Soekarno Ke Gerbang Proklamasi

Inggit Garnasih, Perempuan yang Mengantar Soekarno Ke Gerbang Proklamasi

869
0
BERBAGI

VOB – Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Diantara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.” Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan “Inggit” yang kemudian menjadi nama depannya.

Inggit Garnasih awalnya adalah ibu kos bagi Soekarno. Ketika itu, Soekarno baru saja datang dari Surabaya. Ia datang ke Bandung pada 1920 untuk menempuh studi di sekarang ITB). Atas rekomendasi HOS Cokroaminto, mentor Soekarno di Surabaya, Soekarno pun tinggal di rumah Inggit Ganarsih yang ketika itu menjadi istri Sanusi, seorang pengusaha menengah yang juga menjadi pengurus Sarekat Islam afdeling (cabang) Bandung.

Soekarno ketika itu masih menjadi suami dari Utari, putri HOS Cokroaminoto. Tapi hubungan suami istri keduanya tak berjalan mulus. Soekarno lebih merasa sebagai abang ketimbang seorang suami. Kedatangan Utari ke Bandung tak berhasil mengubah keadaan.

Entah kenapa, barangkali karena sehari-hari berdekatan, Soekarno berani curhat semua persoalan keluarganya kepada Inggit. Dan Inggit, laiknya seorang ibu kos yang baik, dengan sabar mendengar keluh kesah anak kosnya yang perlente dan bersemangat itu. Sesekali Inggit memberi masukan agar Soekarno berusaha memerbaiki hubungannya dengan Utari.

Tapi saran Inggit tak pernah berhasil direalisasikan Soekarno. Akhirnya, setelah berpikir matang-matang, Soekarno mengembalikan Utari kepada ayahnya, Cokroaminoto. Mereka bercerai, dan konon kabarnya, tanpa sempat sekalipun mengadakan hubungan suami istri.

Sekembalinya dari Surabaya, diselingi kerja kerasnya belajar dan beraktivitas, Soekarno makin dekat saja dengan Inggit. Tak urung, hembusan gunjingan pun menerpa. Sadar akan situasi keluarganya, Sanusi pun melepas Inggit. Sanusi, dengan keikhlasannya yang luar biasa, menyarankan agar Inggit merawat dan membantu Soekarno sebisanya.

“Akang rido,” kata Sanusi, “Kalau Eulis (Inggit) menerima lamaran Kusno (Soekarno) dan kalian berdua menikah. Mari kita jagokan dia, sehingga ia benar-benar menjadi orang penting. Mari kita bantu dia sampai ia benar-benar menjadi pemimpin rakyat. Dampingi dia, bantulah dia, sampai ia benar-benar mencapai cita-citanya,” kata Sanusi.


Mereka pun menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda.

Dan Inggit tampaknya berhasil. Ya, Inggit benar-benar menjadi pendamping yang tidak hanya setia, melainkan juga menjadi seorang pendukung Soekarno yang paling aktif dan militan.

Soekarno mungkin seorang singa podium, tetapi ia tak ubahnya Hamlet yang rapuh dan selalu kesepian ketika sendiri dan jauh dari massa. Ia adalah seorang revolusioner yang dengan perkasanya mengobarkan perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi sebetulnya ia adalah lelaki yang bahkan menyembelih seekor ayam pun tak sanggup. Soekarno adalah lelaki yang sangat membutuhkan afeksi. Kasih sayang. Ia membutuhkan figur seorang ibu. Ia sudah sering bertemu dengan noni-noni Belanda yang cantik, tapi ia butuh seorang perempuan yang bisa menemaninya tiap detik, bahkan di saat-saat yang terpedih sekalipun. Inggit adalah jawaban atas semua kebutuhan psikologis Soekarno itu.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengenal emosi dirinya sendiri sehingga ia dapat mengendalikan emosinya, mengenal emosi orang lain sehingga seseorang mempunyai keterampilan bergaul, dan dapat membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosi macam ini pula yang dimiliki Inggit sehingga ia mampu memetakan dan membaca struktur mental Soekarno, apa yang diinginkan Soekarno, dan bagaimana cara memerlakukan Soekarno. Tidak aneh rasanya jika kemudian kita menemukan betapa Inggit seperti tahu apa yang dibutuhkan Soekarno, apa yang diinginkan Soekarno dan bagaimana menjawab semua kebutuhan itu dengan proporsional.

Dengan ditemani seorang sekondan yang memiliki kecerdasan emosional di atas rata-rata, Soekarno pun naik pelahan tapi pasti ke langit-langit pergerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Dengan Inggit yang telaten, Seokarno mampu menyelesaikan kuliahnya kendati aktivisme politik makin membuatnya kehilangan waktu. Bersama seorang sekondan yang punya karat kesetiaan tak tertandingi itulah, tak aneh jika Soekarno bisa melewati karang-karang terjal.

Tetapi Inggit akhirnya juga menjadi kartu mati bagi seorang Soekarno. Ketika usia Soekarno makin beranjak tua, hasrat untuk menimang anak tentu saja makin tak terbendung. Sayangnya, Inggit tak bisa memberinya buah hati. Ia perempuan mandul. Sebuah drama kehidupan datang ketika Soekarno sedang diasingkan ke Bengkulu. Soekarno justru terpikat oleh salah satu anak angkatnya sendiri, Fatmawati. Kedekatan keduanya makin tak tertahan ketika Inggit harus pergi ke Yogya untuk mengantarkan Omi, putri angkat Soekarno yang pertama, mendaftar sekolah di Taman Siswa.

Sekembalinya dari Yogya, Inggit menyadari situasi telah berubah. Awalnya Soekarno ingin memadu Inggit. Tapi Inggit menampik. Ia mengijinkan Soekarno menikah tapi minta diceraikan terlebih dahulu. Perceraian itu pun terjadi pada 1942 ketika mereka sudah tinggal di Pegangsaan Timur, Jakarta. Inilah yang membuat riwayat Inggit menjadi istimewa. Ia memang mencintai Soekarno luar dalam; sebuah kecintaan yang membuatnya rela menderita dan melarat. Tetapi, kecintaan itu tak membuatnya kehilangan karakter sebagai seorang perempuan agung. Dari hulu hingga hilir, Inggit tetap konsisten menolak poligami, bahkan ketika ia harus kehilangan lelaki yang sangat dicintainya.

Perceraian itu membuat Inggit kehilangan kesempatan menikmati masa-masa emas menjadi istri Soekarno. Jika ia menerima dimadu, boleh jadi dirinyalah yang akan jadi ibu negara dan menikmati sejumlah fasilitas. Tapi Inggit telah memutuskan. Ia tampaknya menyadari bahwa tugasnya sebagai istri Soekarno telah usai. Ia telah menunaikan dengan sebaiknya-baiknya sebuah tugas historis untuk mengantarkan seorang lelaki besar yang pernah dilahirkan bangsa ini sampai ke pintu gerbang cita-citanya.

Ramadhan KH mengakhiri bukunya, Kuantar ke Gerbang, dengan sebuah fragmen singkat yang menyentuh. Hari itu, Soekarno datang ke Bandung bersama istrinya, Inggit Garnasih. Dengan ditemani Mas Mansur, Soekarno membawa Inggit ke jalan Lengkong Besar, menuju kediaman Haji Anda. Di sana, Soekarno bermaksud mengembalikan Inggit kepada keluarganya. Saat itu juga, lewat sebuah pertemuan yang kaku nan hambar, Inggit resmi diceraikan dan dikembalikan kepada keluarganya.

Ada yang penting untuk dikenang dari kejadian itu. Persis hanya beberapa kerjap sebelum rombongan Soekarno hendak angkat koper, Inggit sempat bersalaman dengan Soekarno. Di detik persentuhan yang terakhir itu, Inggit mencurahkan sepucuk doa yang bersahaja: “Selamat jalan. Semoga selamat dalam perjalanan.”

Sepucuk doa Inggit itu bukanlah sesuatu yang bersahaja. Sepucuk doa itu bukan semata berisi harapan agar Soekarno sampai ke Jakarta dengan selamat tanpa suatu apa, melainkan jauh lebih besar dari itu. Doa yang bersahaja Inggit sebenarnya adalah harapan agar cita-cita dan visi besar Soekarno, lelaki yang siang itu telah menjadi mantan suaminya, betul-betul selamat hingga mewujud menjadi realitas sejarah. Dan, di balik doa yang pendek itu, terukir sebuah kisah cinta yang indah, bergelora, menggugah, sekaligus juga penuh dengan keganjilan; sebuah kisah cinta yang, diakui atau tidak, menjadi salah satu bagian penting nan indah yang tak bisa diabaikan begitu saja dari keseluruhan episode perjalanan bangsa ini mencapai kemerdekaannya.

Kuantar ke Gerbang, “Selamat jalan. Semoga selamat dalam perjalanan.”

– Nuryati, Reni dkk. 2007. Istri-Istri Sukarno. Ombak: Yogyakarta.

– Kuantar ke Gerbang: kisah cinta kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981)

sumber: http://segalaberita.com/