Beranda NASIONAL BANDUNG Front Pembela Islam (FPI) Gagalkan Pentas Monolog “Tan Malaka, Saya Rusa Berbulu...

Front Pembela Islam (FPI) Gagalkan Pentas Monolog “Tan Malaka, Saya Rusa Berbulu Merah”

364
0
BERBAGI

SUARABANDUNG, (VOB) – Setelah negosiasi siang harinya, Rabu (23 Maret 2016) antara pihak MainTeater, IFI Bandung dan Ormas Islam diantaranya  menemui jalan buntu.  Dan FPI keukkeuh agar pentas monolog “Tan Malaka, Saya Rusa Berbulu Merah” tidak dilaksanakan, maka atas pertimbangan keamanan, pentas itu dibatalkan.

Pihak IFI Bandung  khawatirkan akan terjadi bentrokan fisik. Ahda Imran selaku penulis naskah setuju, sutradara Wawan Sofwan dan kru MainTeater mengiyakan.

Setelah magrib sebagian penonton sudah hadir, sebagian lagi tidak datang karena pimpro pertunjukan Heliana Sinaga sudah memberi informasi lewat Facebook bahwa pertunjukan dibatalkan. Meski tidak jadi, sebagian penonton tetap berada di luar Aulua IFI Jl. Purnawarman 32 Bandung, sebagian lagi berkerumun beberapa orang anggota FPI untuk memantau perkembangan.

Selang beberapa saat, seorang penonton bernama Taufik Rasyid (62) bertanya alasan pentas monolog dihentikan, maka ia pun ngobrol dengan sejumlah anggota FPI, disaksikan oleh penonton lainnya. Namun tiba tiba dari arah belakang seorang anggota FPI lainnya berteriak dan minta semua bubar.

Dengan penuh emosi anggota FPI itu merangsek ke tengah kerumunan membuat penonton panik, seorang anak kecil berteriak-teriak ketakutan. Sebagian penonton menjelaskan bahwa yang terjadi barusan adalah hanya ngobrol saja. Namun orang FPI tersebut malah membentak bentak dan minta bubar.

Bentrokan pun terjadi sekitar  satu menit dan berhasil diredakan setelah Kapolsek Sumur Bandung datang serta Direktrur IFI Bandung Melani meminta agar semua orang  keluar dan mengajak penonton untuk tidak ikut permainan bodoh FPI.

Namun teriakan-teriakan FPI masih ada.”Kami akan bubar kalau semua bubar, ayooo bubar semua..!. Teriak mereka seraya menyebut bahwa komunis harus dibasmi. Sebagian penonton hanya bisa mengucap istigfar, karena mereka kebingungan, mau keluar juga terhalang oleh FPI. Pihak kepolisian sudah meminta agar FPI membubarkan diri baru penonton.

“Kami telah memberikan kesempatan kepada pihak FPI yang diwakili oleh Bapak Hilman Firdaus untuk berbicara sebelum pementasan. Akan tetapi tentu saja mereka menolaknya.”

Hal tersebut diamini oleh Ricky yang mengungkapkan bahwa pihak IFI membuka peluang sebesar-besarnya untuk berdialog. “Ketebukaan dan dialog serta kelegowoaan lebih kami utamakan daripada otot,” tuturnya.

Wawan Sofwan selaku sutradara menuturkan bahwa pihaknya tidak akan kapok untuk mementaskan drama. “Ini adalah resiko kami. Tentu kami tidak menduga akan ada hal seperti ini. Kami akan tetap menggelar pementasan malam ini berupa latihan untuk para pemain.”

Wawan menjelaskan bahwa pihaknya akan tetap melangsungkan kegiatan latihan di IFI Bandung. Sementara untuk pengembalian tiket akan dilaksanakan malam ini. “Penonton akan tetap masuk dan kami akan menjelaskan apa yang terjadi.”

Heliana Sinaga, pimpinan produksi monolog Tan Malaka menuturkan bahwa malam ini sudah ada 150 tiket terjual dan ada 30 tiket yang dijual di tempat. “Untuk besok malam sudah penuh. Sekitar 150 kursi.” Pihak Mainteater berjanji akan mengembalikan uang tiket penonton dengan menggunakan uang kas yang ada.

“Monolog Tan Malaka ini tidak ada sponsor akan tetapi kami akan berusaha mengembalikan tiket penonton. Kami akan berusaha.”

Ahda Imran sang penulis naskah   ia menantang Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil untuk membuktikan janjinya. “Bandung Juara itu bagaimana? Ketika kebebasan berekspresi dihadang. Negara alfa saat ini.”

Senada dengan Ahda, Wawan Sofwan juga mengemukakan bahwa pelarangan ini serupa senjakala kesenian di Kota Bandung.

Direktur IFI Bandung, Melanie Martini mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya pelarangan dan peristiwa ini menunjukkan buruknya rasa toleransi. Mereka yang ingin menggagalkan monolog tanpa mengetahui dan mau berdiskusi soal konten kesenian menunjukkan rendahnya rasa toleransi.

Melanie juga meminta maaf kepada Mainteater yang telah berusaha dan keluar banyak energi demi terwujudnya monolog ini, “Kami sangat menyesal dan mohon maaf kepada kawan-kawan Mainteater atas peristiwa ini. Dan, kita tidak ingin membuang minyak ke dalam api.”katanya. (VOB/mjs/bc)