Beranda NASIONAL BANDUNG Benahi Tata Kelola Migas Dahulu, Jadi Anggota OPEC Kemudian

Benahi Tata Kelola Migas Dahulu, Jadi Anggota OPEC Kemudian

594
0
BERBAGI

VOB – Indonesia secara resmi menyatakan keinginan untuk kembali bergabung dalam OPEC. Hal ini Menteri ESDM Sudirman Said melalui pertemuan dengan Sekretaris Jenderal OPEC, Abdalla Salem el-Badri serta kepada beberapa negara utama anggota OPEC.

Menteri ESDM Sudirman Said menghadiri pertemuan 6th International Seminar OPEC, yang dilaksanakan pada 3-4 Juni 2015 lalu, di Hofburg Palace, Vienna, Austria. Menurut Sudirman, secara khusus OPEC menggelar rapat pada hari Jumat (5/6) untuk membahas rencana Indonesia ini.

Sudirman menuturkan, saat ini status Indonesia adalah suspended sejak tahun 2009. Dia mengklaim anggota-anggota utama OPEC yang sudah ditemui menyatakan dukungan penuh terhadap keinginan Indonesia untuk bergabung kembali dalam OPEC. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang berperan dalam pendirian dan pengembangan OPEC.

“Aktifnya kembali Indonesia di OPEC dan pertemuan bilateral dengan berbagai negara membuka kembali peluang kerjasama dan dukungan dari negara-negara anggota OPEC dalam penguatan kedaulatan energi. Kesempatan dukungan ini sempat tertunda selama beberapa tahun sejak kita menyatakan ketidakaktifan dalam OPEC,” ujarnya.

Namun, anggota Komisi VII DPR-RI Kurtubi berpendapat bahwa upaya Indonesia untuk kembali menjadi anggota organisasi negara pengekspor minyak dunia (OPEC) mustahil bisa terwujud. “Pemerintah sekarang ingin kembali menjadi anggota OPEC, ini ibarat mimpi di siang bolong. Produksi minyak kita sangat rendah, impornya malah besar,” ujar Kurtubi ketika ditemui di Jakarta, Sabtu (6/6).

Menurut dia, apabila pemerintah ingin kembali menjadi anggota OPEC, maka harus diawali dengan pembenahan sistem tata kelola migas yang ia anggap sangat kacau.

Melalui pembenahan tersebut, ujarnya, maka iklim investasi dapat membaik, termasuk berdampak pada peningkatan penemuan cadangan minyak dan gas, sehingga bisa meningkatkan produksi dalam negeri. “Kalau mau jadi anggota peninjau ya tidak masalah, tapi kita jadi tidak punyak hak suara untuk berbicara. Siapa pun bisa kalau cuma jadi peninjau,” tukas anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Nasdem tersebut.

Ia menjelaskan, ketika masih menjadi anggota OPEC produksi minyak Indonesia sangat tinggi, bahkan mencapai 1,5 juta barel per hari. “Tapi sekarang 60 persen kebutuhan minyak kita harus impor, masyarakat harus tahu itu. Sekarang produksinya turun terus karena salah kelola, bukan karena minyak buminya tidak ada,” ujarnya menambahkan.

Berdasarkan data yang ia paparkan, Kurtubi memperkirakan potensi kandungan minyak dan gas di Indonesia mencapai 80 miliar barel, baik yang terletak di laut dan darat.

Oleh karenanya, ia berharap agar pemerintah meninjau kembali keputusan tersebut dan melakukan pembenahan sistem tata kelola migas yang dinilai menjadi akar permasalahan industri migas di Indonesia. [iba]